KelasKepo

Resensi Novel : Daun yang jatuh tak pernah membenci angin

image

“Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan” Tere Liye

Novel karya tere Liye ini diawali dengan gambaran suasana sebuah kota di malam hari, seorang perempuan- Tania berusia 21 tahun duduk menyendiri di sebuah toko buku di kota tersebut, mengingat kembali serpihan cerita kehidupannya sepuluh tahun terakhir. Ya, toko ini sebagai penanda perubahan kehidupannya sepuluh tahun terakhir yang penuh warna, walau tak semua berwarna cerah.

Tania, gadis berusia 11 tahun harus merasakan kehidupan sulit di kota besar, ayahnya meninggal dan ibunya sakit-sakitan, keluarganya diusir dari rumah kontarkan sehingga terpaksa tinggal di rumah kardus. Ia dan adiknya- Dede putus sekolah dan menjadi tulang punggung keluarga dengan mengamen dari bis ke bis.

Secercah cahaya kehidupan hadir ketika ia bertemu dengan seorang pria- dia di sebuah bis , menolong Tania akibat luka paku yang tak sengaja ia injak akibat tak beralaskan kaki, hingga dia menjadi malaikat penolong keluarga mereka, menyekolahkan kembali Tania dan adiknya, juga memberikan modal kepada ibunya untuk berjualan kue.

Seiring berjalannya waktu mereka tumbuh bersama, terpaut beda usia 14 tahun antara Tania dan dia, menjalani hidup bersama dengan keluarga Tania yang dia anggap sebagai keluarganya sendiri, hingga suatu pertemuan dengan seseorang perempuan yang disukai ole dia,menyadarkan Tania akan perasaan yang diam-diam telah ada sejak dulu. Hal tersebut semakin runjam ketika dia merencanakan menikah dengan perempuan itu.
“Salahkah bila Tania menyukai dia, seseorang yang menjadi malaikat bagi keluarganya? Apakah Tania harus menerima sebagimana daun yang jatuh tak pernah membenci angin membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya ?”