Dental

Merokok selama Kehamilan Berakibat Hipondotia pada Anak

Pernah mendapati anak yang tak kunjung tumbuh giginya, padahal teman sebayanya telah menampakkan gigi permanennya. Hal tersebut mungkin saja hipondontia.

Hipodontia adalah malformasi kraniofasial yang paling umum pada manusia yang mengakibatkan tidak terbentuknya benih gigi yang disebabkan oleh sindrom genetik yang diketahui atau nonsindrom.

Kehilangan gigi paling sering terjadi pada gigi premolar permanen dan gigi insisivus lateral atas. Prevalensi hipodontia yang dilaporkan berkisar 1,6-6,9% , tidak termasuk molar ketiga.1

Faktor etiologi yang terlibat dalam agenesis gigi masih belum diketahui, beberapa literatur menjelaskan bahwa variasi genetik memainkan peran penting penyebab hipodontia. Namun demikian, literatur lainya menjelaskan kelainan morfogenesis gigi termasuk hipondontia disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan yang kompleks.2

Penelitian yang dilakukan oleh Al-Ani dkk dari Univeritas Otago mengidentifikasi hubungan antara hipondontia dengan faktor risiko lingkungan seperti merokok, konsumsi kafein dan alkohol selama kehamilan.3

Penelitian ini menganalisis riwayat perokok aktif dan pasif serta konsumsi alkohol dan kafein selama kehamilan dengan menggunakan kuesioner dan radiografi panoramik. Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan ditemukan antara hipodontia dan perokok aktif selama kehamilan, serta jumlah rokok yang dihisap per hari. Konsumsi 10 atau lebih rokok per hari selama kehamilan dikaitkan dengan kemungkinan lebih besar memiliki anak dengan hipodontia. Sedangkan analisa antara hipodontia, perokok pasif, konsumsi alkohol dan kafein tidak terdapat hasil yang  signifikan secara statistik.3

Craniofacial, cartilage, nervus, dan tissue semuanya berasal dari neural crest cells yang  sangat sensitif terhadap tingginya tingkat stres oksidatif.  Stres oksidatif adalah keadaan di mana jumlah radikal bebas di dalam tubuh  melebihi kapasitas tubuh untuk menetralkannya. Stres oksidatif dapat timbul disebabkan faktor genetik dan lingkungan. Salah satu bentuk stres oksidatif  adalah merokok yang memainkan peran penting dalam patogenesis kelainan  neural crest cells  dan etiologi anomali kraniofasial. 3,4 Kerusakan neural crest cells  yang disebabkan stres oksidatif, seperti merokok, dapat membantu menjelaskan hubungan kausal antara hipodontia dan merokok.  Penderita hipodontia sering menghadapi  masalah klinis yang signifikan untuk ortodontik karena dalam sejumlah kasus membutuhkan waktu pengobatan berkepanjangan . Oleh karena itu, identifikasi faktor genetik dan lingkungan  sangat berguna dalam strategi pencegahan dan pengobatan baru di masa depan.

1. Al-Ani AH, Antoun JS, Thomson WM, Merriman TR, Farella M. Hypodontia: An Update on Its Etiology, Classification, and Clinical Management. BioMed Research International. 2017;2017:9378325. DOI:10.1155/2017/9378325.

2. Al-Ani AH, Antoun JS, Thomson WM, Merriman TR, Farella M. Hypodontia . Maternal Smoking during Pregnancy Is Associated with Offspring Hypodonti. J Dent Res 1 –6. DOI : 10.1177/0022345177

3. Matalova E, Fleischmannova J, Sharpe PT, Tucker AS. 2008. Tooth agenesis: from molecular genetics to molecular dentistry. J Dent Res. 87(7):617– 623.  DOI : 10.1177/154405910808700715

4. Van der Vaart H, Postma D, Timens W, Ten H. Acute effects of cigarette smoke on inflammation and oxidative stress: a review. Thorax. 2004;59(8):713-721. DOI :10.1136/thx.2003.012468.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *