Jalan-jalan

JELANG EMPAT TAHUN PESTA KOMUNITAS MAKASSAR

“Lebih separuh penduduk kota Makasar adalah Anak Muda dengan usia produktif. Bisa dibayangkan begitu besar efek dan energi tersebut jika disalurkan pada kegiatan positif” Kak Jimpe

 

Pesta Komunitas Makassar (PKM) memberikan warna tersendiri bagi Kota Makassar. Anak Muda berkumpul dan berkolaborasi dalam satu aksi. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, minat dan hobbi, kemudain hadir mengisi sebuah kegiatan yang diusung bersama. Pesta Komunitas Makassar.

Jelang empat tahun Pesta Komunitas Makassar yang dimulai pada tahun 2014, berbagai kegiatan kolaborasi telah dilakukan, komunitas-komunitas Makassar kian bertambah banyak dan semakin dikenal. Saya sendiri sangat senang bisa ikut menjadi bagian kepanitian PKM 2015 yang memberikan kesempatan mengenal banyak teman baru dan komunitas baru.

Pada kesempatan ini, saya mendapat kesempatan berbincang-bincang mengenai PKM dengan seorang pengamat kota. Anwar Jimpe Rachman atau sering dipanggil Kak Jimpe. Pria kelahiran 1975 menjadi bagian institusi proyek perpustakkan, jurnalisme dan seni di kota Makassar. Beliau memiliki perpustakaan yang dinamakan Kampong Buku Ininawa, aktif di Tanahindie, dan direktur Makassar Biennele yang akan segera diadakan tahun ini.

Singkatnya, kami berjanji bertemu di sebuah kafe di daerah Pasar Segar. Sebuah kafe dengan dekorasi pelangi, dan hiasan bunga. Setelah memilih tempat duduk di pinggir kaca dan memesan minuman. Kami memulai perbincangan kami mengenai PKM
****

Kolaborasi komunitas sebelum PKM
Ternyata sebelum Pesta Komunitas Makassar pertama pada tahun 2014. Tanahindie telah mencoba mengumpulkan beberapa komunitas di kota Makassar dalam satu panggung. Tanahindie adalah lembaga nirbala dengan program diskusi/pameran yang bertopik ekspresi dan perkembangan kota mutakhir. Kegiatan tersebut bertajuk “November Ceria” yang sekaligus merayakan dua belas tahun Tanahinide. Sekitar lima belas komunitas hadir mengisi kegiatan tersebut seperti Blogger Anging Mammiri, Komunitas Pencinta Anak Jalanan, Komunitas Rap, Dance Modern, Film dan lain-lain.

“ Komunitas booming karena media social, jadi perlu ada perubahan dalam hal alur komunikasi dengan bertatap muka langsung” tutur Kak Jimpe

Acaranya cukup sederhana tanpa banyak persiapaan seperti PKM saat ini, hanya mengandalakan pinjam peralatan komunitas untuk menyelenggarakan acara ini. Semua serba dibagi. Isi acara seputar perkenalan antar komunitas dan penampilan komunitas yang diselengarakan di Kampung Buku.

“Jadi acaranya sederhana, perlengkapannya cuma pinjam-pinjam dari orang dan komunitas lainnya” lanjutnya

Sebelum kegiatan kolaborasi tersebut, awalnya dipicu oleh isu pengusuran Sekolah Pesisir sekitar tahun 2009. Mereka membutuhkan dukungan moral dan material, sehingga Tanahindie membuat sebuah forum untuk mempresentasikan kebutuhan mereka dan sharing cerita ke komunitas-komunitas.
***

Awal mula PKM
“ Saya tidak tahu pastinya ide awalnya , kadang hanya diskusi atau beri saran. Eh ternyata terwujud dalam suatu acara” tuturnya.

Dari hasil berbincang-bincang dengan beberapa teman, mengatakan Kak Jimpe adalah salah satu pencetus ide PKM. Walau kolaborasi komunitas sudah ia lakukan bersama tanahindie
***

Pandangan PKM hari ini dan kedepannya
“Bagus sekali, PKM memberikan wadah anak muda kota Makasssar untuk melihat komunitas yang ada dan memberi pilihan sesuai bakat dan minatnya, seperti komunitas edukasi yang mengajar ke desa ataupun membantu adik-adik putus sekolah”

PKM memberikan wadah untuk komunitas menunjukkan eksistensinya dan aktualisasi diri. Secara garis besar dibagi dalam Komunitas Edukasi, Hobbi, Trevelling, Media Sosial, Reptil dan Sosial. Kegiatan ini mempertemukan anak muda dan komunitas, sehingga anak muda dapat memilih komunitasnya dan komunitas memperbanyak anggota yang tentu membantu dalam regenerasi komunitas tersebut.

“Komunitas berkumpul dan beraksi memberikan kontribusi yang baik bagi Kota Makassar. Selain itu menjadi tempat Anak Muda Kota Makassar untuk belajar, dan berkegiatan” lanjutnya
Lebih lanjut mengenai fenomena anak muda kota Makassar.

“Sangat Menarik mendapati anak komunitas yang dulunya berada dalam satu komunitas, kini mencoba terjun ke komunitas lain. Lintas Komunitas”, tuturnya. Makassar menjadi terasa lebih sempit dalam hal mengenal lebih banyak orang sehingga kadang menemukan orang yang sama dalam beberapa komunitas.

“Pemerintah perlu melihat dan mendukung kegiatan Komunitas” tuturnya mengenai program-program kegiatan komunitas seperti edukasi atau sosial “ Sektor-sektor yang tidak dapat disentuh pemerintah tapi dapat dilakukan komunitas. Walaupun Pemerintah tidak dapat menindaklanjuti. Haparapannya pemerintah tetap dapat mendukung kegiatan komunitas tersebut”

Sedangkan Pesta Komunitas Makassar sendiri telah didukung oleh Dinas Pariwisata Kota Makassar dan menjadi agenda tahunan mereka sebagai sponsori kegiatan. Tahun ini menjadi tahun keempat PKM dan menjadi tahun ketiga pemerintah mensponsori PKM.

***

Tantangan PKM
PKM memberikan tantang tersendiri, kegiatan yang telah dilakukan hampir empat tahun berturut-turut dan dilaksanakan setiap tahun oleh orang-orang yang baru walaupun tidak sedikit masih ada orang yang lama.

“Mereka beradapatsi dengan cepat sehingga memberikan keuntungan pembelajaraan yang cepat” tuturnya.

Di sisi lain kekhawatiran yang muncul adalah kegiatan tiap tahun ini tentu menguras tenaga dan materi sehingga ritme yang terlalu cepat terhalangan oleh persiapan, orang-orang yang terlibat dan dana yang dibutuhkan dalam penyelenggaran kegiatan.

Kemudian beliau memberikan saran agar tetap menjaga semangat berkomunitas
“Jika dalam berkomunitas terasa menjenuhkan, segera berdiskusi untuk mendapat jalan tengah”

****

Tulisan ini hasil wawacara dengan Anwar Jimpe Rachman atau Kak Jimpe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *