Dental

IDENTIFIKASI KORBAN MENINGGAL MASSAL MELALUI GIGI

 

Nom Nom Nom: From left, a cast of teeth from a chimpanzee, Australopithecus afarensis and a modern human. We switched from an ape-like diet of fruits and leaves about 3.5 million years ago, according to fresh research. There's evidence that meat-eating came about a million years or so later.

Sabtu, 12 Oktober 2002. Sebuah peristiwa mengegarkan nusatara dan macanegara. Sebuah peristiwa pengeboman di dua tempat hiburan kawasan jalan Legian Bali dan kantor konsulat Amerika Serikat . Ledakan ini menewaskan ratusan korban baik warga dan wisatawan lokal serta wisatawan mancanegara yang hingga kini kita kenal dengan peristiwa Bom Bali 1.

Kejadian ini tercatat menewaskan 202 orang dan 209 orang lainnya luka-luka. Korban meninggal dari ledakan ini sebagain besar adalah wisatawan asing, dengan kondisi hangus terbakar. Hal ini menjadi tugas bagi Disaster Victim Identification/DVI untuk mengenali korban meninggal. Identifikasi korban meninggal massal pada Bom Bali 1 dilakukan oleh Tim Forensik Polri dan juga dibantu oleh Tim forensik Australia ikut mengidentifikasi jenazah.

Pentingnya identifikasi korban meninggal perlu dilakukan karena merupakan perwujudan Hak Asasi Manusia dan penghormatan kepada orang yang telah meninggal serta menetukan secara hukum apakah seseorang dinyatakan masih hidup atau sudah meninggal. Dalam prosesnya, Identifikasi korban meninggal pada Bom Bali 1 dikenali atau teridentifikasi melaui gigi sebanyak 56 %. Umumnya korban dalam keadaan korban hangus terbakar atau pembusukan tingkat lanjut yang sulit dikenali dengan identifikasi konvesional sehingga identifikasi gigi-geligi lebih efektif

Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang. Identifikasi terbagi atas dua yakni primary identifiers dan secondary identifiers. Primary Identifiers mencakup Sidik jari, DNA dan Gigi geligi sedangkan secondary identifiers mencakup antropomeri yakni mencakup pengukuran ukuran tubuh, berat, volume dan lain-lain dan pemeriksaan medis.

Kondisi korban yang hangus terbakar sulit teridentifikasi melalui sidik jari. Sedangkan Tes DNA  membutuhkan biaya yang mahal mengingat kejadiaan ini merengut ratusan orang . Sehingga menggunakan gigi geligi sebagai idenifikasi korban lebih efektif.
Beberapa bencana di Indonesia , identifikasi korban meninggal massal melalui gigi mempunyai kontribusi yang tinggi dalam menentukan identitas seseorang. Kasus Bom Bali terindentifikasi melalui gigi geligi mencapai 56 %, korban kecelakan Situbondo 60%, dan jatuhnya Pesawat Garuda di Yogjakarta 66,7%.

Gigi merupakan bagian terkeras dari tubuh karena komposisinya anorganik 70%, organik 20% dan air 10%, terletak di rongga mulut yang terlindungi, dipegang kuat oleh tulang rahang dan dibasahi air liur, sehingga tidak mudah rusak. Gigi manusia terdiri dari 32 gigi dengan bentuk bervariasi dengan 160 permukaan dengan perumpamaan adanya variasi khas seperti tambalan, gigi palsu, implant, breacet dan lain sebagainya pada gigi tertentu. Dengan perumpamaan jumlah manusia di bumi 3 milyar, berarti keseluruahan hanya terdapat 2 orang dengan variasi gigi yang identik . Melalui gigi geligi kita dapat memperoleh informasi mengenai umur, ras, jenis kelamin, golongan darah, bentuk wajah.

Gigi dapat menjadi sarana identifikasi forensik. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pencatatan data gigi (odontogram) dan rahang yang dapat dilakukan dengan menggunkan pemeriksaan manual, radiografi dan pencatakan gigi dan rahang.

Odontogram memuat data tentang jumlah , bentuk, susunan, tambalan, protesa, implant dan sebagianya. Seperti halnya sidik jari, gigi setiap individu memiliki susuanan yang khas. Identifikasi dilakukan dengan data riwayat kondisi gigi korban sebelum meninggal yang disebut data Antemortem. Data kondisi gigi yang didapatkan korban seteleh meninggal disebut dengan data Postmortem. Selanjutnya dari Antermortem tersebut dicocokkan dengan kondisi gigi geligi korban setelah meninggal (Postmortem). Sehingga apabila ditemukan kesamaan atau identik antara data antemortem dan data postmortem dapat disimpulkan korban adalah pemilik identitis tersebut.

antemortem

Sumber : www.nature.com

Adapun metode lain dilakukan dengan menggunakan metode superimpose yaitu membandingkan gigi yang terlihat dari korban sewaktu hidup. Foto tersebut kemudian ditimpa dengan foto gigi korban yang sudah meninggal melalui aplikasi tertentu. Jika ukurannya sama, maka dapat jenazah positif dapat teridentifikasi.

Riwayat rekam medis umum maupun gigi penting dimiliki selain sebagai pertimbangan atau panduan untuk perawatan medis selanjutnya juga dapat menjadi data apabila suatu kejadian tidak diinginkan terjadi.

Di Indonesia, beberapa orang masih belum memiliki data riwayat pemeriksaan gigi atau rekam medis ini menyulitkan apabila membutuhkan data antemortem. Sesuai peraturan menteri kesehatan nomor 269/Menkes/Per/III/2008 tentang rekam medis. Rekam medis rawat inap disimpan sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun terhitung dari tanggal pasien berobat atau dipulangkan . Sedangkan rekam medis sarana pelayanan kesehatan non rumah sakit wajib disimpan sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun terhitung tanggal terakhir berobat pasien.

Sumber :
Peranan dokter gigi dalam ientifikasi forensik. www.unair.ac.id diakses 23/10/2015
Identifikasi forensik. www.wikipedia.com diakses 22/10/2015
Gigi.www.wikipedia. com diakses 22/10/2015
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 269/Menkes/III/2008 tentang rekam medis