Jalan-jalan

CATATAN PERJALANAN : BERKUNJUNG KE RUMAH NENEK MOYANG BANGSA INDONESIA

Sabtu, 29 Agustus 2015
Akhir pekan menjadi saat yang ditunggu untuk berlibur ataupun beristirahat,begitupula akhir pekan minggu ini. Kelas menulis kepo mendapat kesempatan berkunjung rumah nenek moyang bangsa indonesia di taman prasejarah leang-leang di BelaE, Pangkep. Kunjungan ini sebagai wisata dan belajar, rombongan kelas menulis terdiri dari 16 orang dan dipandu langsung oleh seorang arkeolog Pak Iwan Sumatri yang masih aktif sebagai dosen sastra Universitas Hasanuddin yang datang bersama istri dan putrinya. Menyenangkan , bukan ?

Perjalanan membutuhkan waktu satu setengah jam hingga tiba di BelaE, Pangkep. Kami berhenti di pinggir jalan, matahari saudah tidak menyegat kulit , tampak hamparan sawah pada sebelah kanan dan karst disebalah kiri, udaranya pun cukup segar karena banyaknya pepohonan hijau dan jarak dari jalan raya yang cukup jauh sehingga bebas polusi udara. Kami diarahkan ke sebuah jalan, memasuki daerah karst.

Sebelum memulai kami berkumpul sejenak, Pak Iwan memperkenalkan diri bersama keluarganya sekaligus pengantar informasi tentang karst yang akan kami kunjungi. Karst adalah bentuk permukaan bumi yang umumnya dicirikan dengan adanya depresi tertutup, daerah ini terbentuk akibat pelarutan batuan, Karst ini dilindungi oleh UU No. 10 tahun 2012 mengenai cagar budaya. Karst memiliki sifat seperti spons yang dapat menyimpan dan mengeluarkan air secara bertahap sehingga daerah ini tidak akan mengalami kekeringan walau musim kemarau sekalipun. Terdapat telaga disekitar karst cukup bersih, juga adanya ikan menjadi penanda air tersebut masih bersih dan aman.

Setelah melewati telaga sekitar sepuluh meter dari telaga dan menaiki beberapa anak tangga sampailah kami sampai di mulut gua Leang Lompoa, kamj menyiapkan penerangan sebelum memasuki gua. Di dalam gua kami mengamati rock painting, rock painting adalah lukisan yang terletak dibatu gua yang digambar oleh nenek moyang bangsa Austronesia , ada yang bergambar trapesium, kura-kura dan gambar abstrak lainnya. Setiap gambar diberikan penanda angka, terdapat 30 gambar pada teras gua dan total 300 gambar dalam gua tersebut.

Terdapat tumpukan kulit-kulit kerang yang cukup besar dan telah membatu, Pak Iwan menjelaskan kulit-kulit kerang ini adalah sisa-sisa makanan yang dikumpul, juga terselip batu kali yang diduga didatangkan dengan sengaja untuk memecahkan kulit kerang.

image
Sisa-sisa kulit kerang l koleksi pribadi

Kemudian kami mengamati kenopi , sebuah lengkungan menghias gua dan dravier yang terbentuk dari air menetes yang terkandung kalium karbonat atau kapur. Butuh waktu yang lama dalam pembentukan dravier ini setiap sepuluh tahun hanya tumbuh satu milimeter.

Dalam perjalanan memasuki gua dengan tanah yang agak basah, Pak Iwan memberikan instruksi untuk berhenti dan meminta mematikan seluruh penerangan kami yang berupa senter. Seluruh penerangan dipadamkan, butuh beberapa detik beradaptasi dengan gelapnya gua. Ini yang dinamakan gelap abadi, terang Pak Iwan menjelaskan kondisi gelap yang terdapat pada gua. Setelah itu, kami berbalik dan berjalan keluar dari gua.

image

Setelah mengunjugi Leang Lempoa, kami mengarah ke rumah penduduk yang akan kami tinggali. Dalam perjalanan terdapat petani yang sedang bekerja di sawah yang telah selesai ia panen dan juga rumah-rumah penduduk . Setelah sampai di rumah penduduk kami berbenah dan beristirat. Kemudian kami menyiapakan makan malam, selepas makan malam kami berkumpul, Pak Iwan menjelaskan teori Out of Taiwan , Out of Africa dan kehidupan manusia prasejarah

Minggu, 30 Agustus 2015
Keesokan harinya setelah menyantap sarapan, perjalanan dilanjutkan menuju Leang Sakapao. Kami memilih berjalan kaki dari rumah menuju Leang Sakapao. Dalam perjalanan kami dapat melihat pemandangan karst yang menjulang tinggi, sawah, perumahan penduduk dan aktifitas penduduk pagi itu. Setelah berjalan sekitar dua kilometer, melewati sawah dan menaiki anak tangga sekitar lima puluh . Sampailah kami di Leang Sakapao , leang yang cukup tinggi. Dari leang tersebut kami dapat melihat pemandangan ke bawah dan karst lainnya.

Leang ini cukup terawat, sudah terdapat pagar yang membatasi daerah leang. Leang ini dijadikan tempat musyawah, terlihat dari tidak adanya kumpulan kulit kerang sisa makanan yang menandakan leang ini bukan tempat hunian dan lukisan.lukisan dalam gua. Di leang ini kami mengamati gambar cap tangan didinding dan lukisan hewan. Lukisan ini bukan sekedar lukisan biasa, lukisan hewan tersebut merupakan ritual sebelum berburu dan cap tangan menandakan adanya kehidupan zaman Plestosin dan bentuk pengharapan. Maka dapat disimpulkan mereka mempercayai Tuhan dengan cara mereka.

image
Lukisan hewan | koleksi pribadi

image

Lukisan cap tangan |koleksi pribadi

Terdapat dua metode mengambar yakni menerangkan tangan kemudian meniup cat warna pada dinding dan menyeruput, cat warna berasal dari warna tulang burung.

Setelah puas berfoto-foto, kami menuruni leang tersebut dan menuju pondok tempat Istri Pak Iwan menyiapkan santap siang.

Selanjutnya kami kembali ke rumah, beristirhat seadanya,santap sore dan bersiap kembali ke kota Daeng.

image
Foto bersama di Leang Sakapao | @iqbal_lubis

Terima Kasih atas kelas wisatanya
Terima Kasih Pak Iwan Sumatri dan sekeluarga
Terima Kasih atas bapak pemilik rumah yang kami tinggali
Terima Kasih atas perjalanan seru nan berkualitas teman-teman
Hidup Antebass !!